DEWA YADNYA
1. PENGERTIAN PANCA YADNYA
Panca Yadnya adalah lima macam yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu yang terdiri dari Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.Dalam pelaksanaan yadnya ini, di samping didasari oleh rasa ketulusan dan keikhlasan juga didukung oleh tata
pelaksanaan yang disebut upacara serta sarana yang melengkapi pelaksanaan yadnya yang disebut dengan upakara atau bebanten. Jadi upacara yadnya adalah tata cara atau pelaksanaan suatu yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu dengan tulus ikhlas. Sedangkan upakara adalah segala sarana yang dipersembahkan.
2. PENGERTIAN DEWA YADNYA
Dewa Yadnya adalah persembahan yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta segala bentuk manifestasi-Nya.Dewa berasal dari kata Div yang artinya sinar atau cahaya suci. Seperti halnya cahaya yang berasal dari matahari, demikianlah para Dewa adalah sumber dari sang pencipta yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.
Dewa sebagai manifestasinya Tuhan memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda seperti misalnya Dewa Wisnu, Dewa Brahma, Dewa Iswara dan yang lainnya memiliki kekuasaan yang berbeda, tetapi para Dewa tetap bersumber dari Tuhan. Dengan demikian pemujaan dan persembahan yang ditujukan kepada para Dewa pada dasarnya adalah ditujukan kepada Tuhan.
Upacara Dewa Yadnya adalah upacara pemujaan dan persembahan sebagai wujud bakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya, yang diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk upacara.Upacara ini bertujuan untuk mengucapkan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas kasih, rahmat dan karunia-Nya sehingga kehidupan dapat berjalan damai.Upacara Dewa Yadnya umumnya dilaksanakan di Sanggah-sanggah, Pamerajan, Pura, Kayangan dan tempat suci lainnya.Upacara Dewa Yadnya ada yang dilakukan setiap hari dan ada juga yang dilakukan pada hari-hari tertentu.Contoh dari upacara Dewa Yadnya yang dilakukan setiap hari adalah puja tri sandya dan yadnya sesa.Sedangkan upacara Dewa Yadnya yang dilakukan pada hari-hari tertentu seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, Siwaratri, Purnama dan Tilem, dan piodalan lainnya.
1
3. MAKNA DAN TUJUAN PELAKSANAAN DEWA YADNYA
Pelaksanaan Dewa Yadnya adalah karena adanya hutang kepada Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk di dalamnya adalah manusia.Manusia bisa memanfaatkan isi alam ini dengan semuanya bersumber dan diciptakan oleh Tuhan. Hutang ini disebut dengan Dewa Rna. Atas dasar itu umat Hindu sewajibnya berbhakti kepada Sang Hyang Widhi dengan melaksanakan persembahan dalam bentuk Dewa Yadnya.
Pelaksanaan Dewa Yadnya memiliki tujuan antara lain :
1. Untuk menyatakan rasa terima kasih kepada Tuhan.
2. Sebagai ungkapan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
3. Sebagai jalan untuk memohon perlindungan dan waranugraha serta permohonan pengampunan atas segala dosa.
4. Sebagai pengejawantahan ajaran Weda.
Pada dasarnya Yadnya itu bertujuan untuk membayar hutang (Rna) yaitu hutang budi dan hutang kepada Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa). Karena berkat Yadnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, alam semesta beserta isinya ini diciptakan.Para Dewa adalah cahaya atau sinar Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang dikuasakan untuk menjaga alam semesta beserta isinya.Karena itu para Dewa harus dipuaskan dengan pelaksanaan yadnya-yadnya yang sudah ditentukan dalam Veda. Selanjutnya ada berbagai jenis Yadnya yang dilakukan manusia untuk mencapaikan perasaan atau pengharapannya, misalnya untuk memohon penyucian, permohonan maaf tentunya dengan berbagai jenis persembahannya dengan tujuan akhir dipersembahkan kepada Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa).
Perlu diketahui bahwa segala kebutuhan hidup masyarakat disediakan oleh para Dewa sebagai administrator-administrator alam semesta. Tidak ada seorangpun di dunia ini dapat membuat sesuatu untuk dirinya sendiri, misalnya manusia tidak dapat membuat beras, demikian juga air, api, udara, tanah dan eter. Tanpa kekuatan Tuhan (Sang Hyang Widhi Wasa) tidak mungkin ada sinar matahari, hujan, angin dan lain sebagainya yang berlimpah-limpah dan tanpa ada unsur itu seseorang tidak dapat hidup. Jadi Yadnya yang kita persembahkan adalah sebagai wujud balas budi serta wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala karunia-Nya.
4. PELAKSANAAN DEWA YADNYA
Pelaksanaan dari upacara Dewa Yadnya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Pelaksanaan yadnya yang dilakukan setiap hari (Nitya Karma), seperti Tri Sandya (sembahyang), menghaturkan canang di setiap Palinggih pada pagi atau sore hari, menjaga kebersihan tempat suci, mesaiban (yadnya sesa).
2. Pelaksanaan yadnya pada hari-hari suci tertentu (Naimitika Karma) seperti Purnama, Tilem, Tumpek, Anggarkasih, Galungan, Kuningan, Saraswati, Siwaratri dan sebagainya.
2
3. Upacara yadnya isidental adalah penyelenggaraan yadnya yang dilaksanakan secara insiden menurut keperluan di masyarakat seperti pelaksanaan upacara pembersihan jagat seperti Rsi Gana dan yang lainnya. Upacara yang terkait dengan tempat-tempat suci seperti melaspas, Pujawali, Piodalan.
Pelaksanaan Dewa Yadnya di samping menggunakan sarana upakara, juga menggunakan puja mantra, serta dilengkapi pula dengan persembahyangan.Sembahyang memiliki pengertian memuja, menyembah, menghormat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Para Dewa, atau kepada sesuatu yang dianggap suci.Sembahyang merupakan perwujudan dari rasa bhakti umat manusia kehadapan Sang Pencipta.Bhakti adalah penyerahan diri sepenuhnya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala ketulusikhlasan dan tanpa adanya ikatan ataupun pamrih. Adapun yang menjadi tujuan umat Hindu melaksanakan persembahyangan adalah untuk mewujudkan rasa bhakti kepada Tuhan beserta segala manifestasiNya, memohon waranugraha serta petunjuk untuk menuju kehidupan yang lebih baik, sebagai wujud penyerahan diri, penyucian lahir bhatin, serta tujuan-tujuan lain yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Pelaksanaan Dewa Yadnya yang pelaksanaannya pada waktu-waktu tertentu (Naimitika Karma) ada yang berdasarkan pawukon, wewaran atau juga berdasarkan sasih.
5.JENIS-JENIS UPACRA DEWAYADNYA
1). BERDASARKAN SASIH
Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Sang Hyang Widhi Wasa. Hari Purnama, sesuai dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa).Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali. Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Keduanya merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala).Pada kedua hari suci ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya.
2). BERDASARKAN PAWUKON
* PAGERWESI : Pagerwesi adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dengan prabhawanya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga disertai oleh para Dewa dan Pitara demi kesejahteraan dunia dengan segala isinya dan demi kesentosaan kehidupan semua makhluk.
3
Pagerwesi yang mempunyai makna sama dengan Guru Purnima dirangkaikan perayaannya dengan Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (pemujaan kepada Sarasvatī), jatuh pada hari terakhir wuku terakhir, yakni Saniscara Umanis wuku Watugunung dan hari pertama dari wuku pertama, yakni Redite Pahing wuku Sinta, dengan Some Ribek dan Sabuhmas, yang jatuh pada hari Soma Pon dan Anggara Wage wuku Sinta.Hari Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (Air Ilmu Pengetahuan) adalah hari untuk memuja dewi Sarasvatī sebagai dewi ilmu pengetahuan, maka pada hari Somaribek dan Sabuhmas adalah hari untuk memuja dewi Śrī Lakṣmī dan Pagerwesi adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Śiva Parameṣṭi Guru, yakni guru tertinggi di jagat raya ini.
Makna pemujaan kepada Śiva Parameṣṭi Guru ini adalah sama dengan makna hari raya Guru Purnima yang jatuh pada bulan Purnama Sravana (di Indonesia disebut Purnama Kasa) yang jatuh pada bulan Juli-Agustus. Pada hari Guru Purnima di samping memuja Tuhan Yang Mahaesa, juga memuja para ṛṣi dan ṛṣi yang paling agung mendapat penghormatan adalah mahaṛṣi Vyasa yang menghimpun dan mengkodifikasikan kitab suci Veda bersama para siswanya, seperti : Sumantu, Pulaha, Jaimini dan Vaisampayana.
*GALUNGAN :Hari Raya Galungan adalah hari raya untuk memperingati hari kemenangan dharma melawan adharma. Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat angayubagia, bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.Ngaturang maha suksmaning idép, angayubagia adalah suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi.Yang terpenting, dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari raya itu adalah sikap batin. Mengenai bebanten tidak kami tuliskan secara lengkap dan terinci. Hanya ditulis yang pokok-pokok saja menurut apa yang umum dilakukan oleh umat. Namun sekali lagi, yang terpenting adalah kesungguhan niat dalam batin.
*KUNINGAN : Hari raya Kuningan dilaksanakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. Pada hari ini kita melakukan persembahyangan kepada para Dewa, para leluhur yang menghaturkan sesajen yang berisi ajengan (nasi) yang berwarna kuning yang bersimbolis kemakmuran, karena beliau telah melimpahkan rahmatnya untuk kemakmuran di dunia ini.
4
3). BERDASARKAN PANCA WARA
Hari raya dewa yadnya yang bersdasarkan panca wara antara lain:
*Anggara kasih adalah hari Selasa-Kliwon. Hari ini oleh orang Jawa dan Bali dianggap keramat. Menurut kepercayaan folklore Jawa, pada hari ini dilarang bepergian. Menurut beberapa orang Bali, pada hari ini, Batara Siwa turun ke bumi.
*Budha Kliwon adalah hari keagamaan yang penuh tantangan untuk berdoa untuk perlindungan dan hidup yang panjang dan sehat. Pada hari ini, yang juga dikenal sebagai hari Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati, umat Hindu Bali berdoa untuk perlindungan rumah tangga dan seluruh dunia termasuk semua makhluk yang mendiaminya.
4).PADA HARI-HARI TERTENTU
Upacara Dewa Yadnya pada hari lainnya juga dilaksanakan pada hari tertentu atau berkaitan dengan tempat suci dan waktu yang khusus. Adapun upacara Dewa Yadnya yang terkait dengan tempat suci, yaitu :
1. Pamelaspas
Upacara ini adalah upacara penyucian terhadap tempat suci yang biasanya tempat atau bangunan-bangunan suci tersebut baru selesai dibuat atau diperbaiki.Biasanya upacara ini didahului dengan pemilihan tempat, dilanjutkan dengan upacara Pangruwakan dan Pacaruan.
2. Pujawali
Upacara ini adalah sebagai hari jadi dari tempat suci tersebut.Pada saat Pujawali, umat penyungsung Pura itu melakukan upacara Yadnya. Kalau disimak, setiap pura di Bali, selalu memiliki hari subhadiwasa tegak pujawali atau pawedalan Pujawali bermakna sama dengan pawedalan. Puja-wali adalah pelaksanaan pemujaan saat walin (hari persembahan kepada) Ida Bhatara di pura dimaksud, dan hari persembahan itu adalah hari kelahiran beliau. Dalam pada itu pawedalan dan piodalan berasal dari kata wedal atau lahir, sehingga dengan demikian berarti pula peringatan hari lahir. Sekilas, dapat ditangkap bahwa pujawali dan pawedalan memiliki makna sama dengan perayaan peringatan kelahiran atau ulang tahun dalam masa modern ini. Sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Rontal Indik Mamungkah Parhyangan, Bhamakertih, rahina subhadiwasa tegak pujawali atau pawedalan ini, biasanya sama harinya dengan hari subhadiwasa saat persembahan dan pemujaan upacara upacara pertama kali sejak pembangunan; karya pamungkah, pamelaspas, mapulang pedagingandan pangenteg linggih sapalelaban pura (upacara ritual pemugaran, penyucian bangunan, menanam upakara dan mengukuhkan bangunan dalam kompleks pura yang bersangkutan) yang telah selesai dibangun termasuk seluruh jajar kemiri - deretan bangunan sebagai unsur dalam struktur bangunan palinggihnya.
5
3. Piodalan
Upacara ini bisa dilakukan tidak secara tepat pada waktu yang berkala. Piodalan biasanya dilakukan di Sanggah Jajaran, Pamerajan Agung, Sanggah Dadia atau sejenisnya, dan pelaksanaannya tergantung pada situasi dan kondisi atas kesepakatan karma penyungsung disamping pula pelaksanaan piodalan tidak terlepas dari Desa, Kala, Patra.
Selanjutnya terdapat pula upacara Dewa Yadnya yang dilaksanakan pada waktu yang khusus, yaitu :
1. Ngusaba
Upacara Ngusaba adalah suatu upacara pemujaan yang berkaitan erat dengan masalah pertanian atau subak.Upacara Ngusaba cenderung melibatkan masyarakat yang berprofesi sebagai petani.
6
Kesimpulan
Dapat kami simpulkan yaitu pelaksanaan dewa yadnya merupakan korban suci yang tulus iklas tanpa pambrih yang di persembahkan kepada para dewa sebagai rasa bakti kita kepada para dewa, dewa yadnya merupakan hutang kepada para dewa karena rahmat yang diberikan tuhan kepada kita seperti tuhan telah memberikan kita hidup, bernafas dan menikmati fasilitas alam oleh karena itu kita berhutang kepada para dewa.
Dalam beryadnya selain didasari oleh ketulusan hati dan ke iklasan tidak terlepas dari yang namanya upacara serta sarana yang melengkapi pelaksanaan yadnya yang disebut dengan upakara atau bebanten. Jadi upacara yadnya adalah tata cara atau pelaksanaan suatu yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu dengan tulus ikhlas. Sedangkan upakara adalah segala sarana yang dipersembahkan. Adapun tata pelaksanaan upacara seperti, upacara yang dilakukan setiap hari, pada hari-hari tertentu dan upacara yang bersifat isidental seperti piodalan.
Jenis-jenis dewa yadnya seperti yang berdasarkan sasih, pawukon, panca wara dan berdasarkan hari-hari tertentu.
Komentar
Posting Komentar